Selayang Pandang

1. GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALUKU TENGAH

 

SEJARAH

Kabupaten Daerah Tingkat II Maluku Tengah sebagai salah satu kabupaten di Maluku yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1952 (L.N. No. 49/1952) tentang pembubaran daerah Maluku selatan dan pembentukan Maluku Tengah dan Maluku Tenggara.

Setelah berlakunya Undang-undang No. 1 Tahun 1957 tanggal 18 januari 1957, tentang pokok-pokok pemerintah untuk seluruh wilayah Republik Indonesia, maka dibentuk daerah-daerah “Swatantra” diantaranya daerah Swantantra Tingkat I Maluku dengan undang-undang darurat No. 22 Tahun 1957 (LN. No. 79/1957) yang kemudian ditetapkan dengan undang-undang No. 20 Tahun 1958 (L.N. No. 60/1958).

Selanjutnya sesuai pasal 73 ayat 4 undang-undang darurat No. 22 Tahun 1957 maka dibentuk pula daerah-daerah Swatantra Tingkat II, sehingga dibentuklah daerah Swatantra Tingkat II di Maluku dengan undang-undang darurat No. 23 tahun 1957 (L.N. No. 80/1957), yang kemudian ditetapkan dengan undang-undang No. 60 Tahun 1958 (L.N. No 111/1958) yang meliputi daerah-daerah Swatantra Tingkat II Maluku Tengah, Maluku Utara, Maluku Tenggara dan Kota Ambon.

Wilayah-Wilayah yang termasuk dalam daerah Swatantra Tingkat II Maluku Tengah adalah : Pulau Ambon, Pulau-Pulau Lease, Pulau-Pulau Banda, Seram Timur, Seram Utara, Seram, Selatan, Seram Barat, dan Pulau Buru sebagaimana yang tercantum dalam PP. No. 35 Tahun 1952 tersebut.

Perkembangan Wilayah Sampai Tahun 2012

Pada Tahun 2004 diberlakukannya Otonomi Daerah yang tertulis dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 maka penyelenggaraan otonomi daerah memberikan pengaruh yang cukup luas dalam perkembangan Maluku Tengah, hal ini dapat dilihat dengan terjadi pemekaran pada beberapa wilayah di kabupaten Maluku Tengah diantaranya Wilayah Pulau Buru, Wilayah Seram Timur dan Wilayah Seram Barat. Sehingga Wilayah Kabupaten Maluku Tengah sejak tahun 2004 hanya meliputi Wilayah Seram Utara, Pulau Ambon, Pulau-pulau lease dan Pulau-pulau banda; akan tetapi luas wilayah di Kabupaten Maluku tengah masih merupakan yang terluas di Provinsi Maluku.

Dari Periode 1994 sampai 2012 telah terjadi banyak perubahan dalam komposisi kecamatan di Wilayah Kabupaten Maluku Tengah, salah satu faktor yang sangat mempengaruhi adalah otonomi daerah yang merupakan indikasi pemekaran wilayah-wilayah sampai pada level kecamatan.

 

1.1. Luas dan Batas Wilayah Administrasi

Kabupaten Maluku Tengah memiliki luas sebesar 275.907 Km², terdiri dari wilayah lautan seluas 264.311,43 Km2 atau 95,80% dan daratan seluas 11.595,57 Km2 atau 4,20%, dengan panjang garis pantai 1.256.230 Km.Kabupaten Maluku Tengah berbatasan dengan :

Ø Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Seram

Ø Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Banda

Ø Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Seram Bagian Barat

Ø Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Seram Bagian Timur

Sebagaimana disajikan dalam tabel. 1 berikut diketahui bahwa sebagian besar wilayah daratan di Kabupaten Maluku Tengah atau sekitar 92,11% berada di pulau Seram dan pulau-pulau kecil sekitarnya. Sedangkan wilayah daratan Kabupaten Maluku Tengah yang tersebar di Pulau Ambon, Pulau Haruku, Pulau Nusalaut dan Saparua, serta Kepulauan Banda hanya seluas 7,98%.

Tabel . 1.

Luas Wilayah Daratan Kabupaten Maluku Tengah

 

No

Pulau dan Kumpulan Pulau

Luas Daratan

Km2

%

(1)

(2)

(3)

(4)

1

Pulau Ambon*

384

3.31

2

Pulau Haruku

150

1.29

3

Pulau Saparua dan Nusa Laut

209

1.8

4

Kepulauan Banda

172

1.48

5

Pulau Seram dan P.P. Kecil**

10,680.57

92.11

Total Luas Daratan

11,595.57

100,00

Sumber : Maluku Tengah Dalam Angka, 2012

Keterangan : * tidak termasuk wilayah Kota Ambon;

** tidak termasuk wilayah Kabupaten SBB dan SBT

Mengacu pada Keputusan Bupati Maluku Tengah Nomor : 140 - 72 Tahun 2011 Tentang Penetapan Jumlah, Nama Negeri/Negeri Administratif dan Kelurahan di Kabupaten Maluku Tengah Tahun 2011, maka secara administratif Kabupaten Maluku Tengah memiliki 17 (Tujuh Belas) Kecamatan, yang terdiri dari 172 Negeri dan 6 Kelurahan.

Tabel . 2.

Luas Wilayah Administratif Kecamatan se-Kabupaten Maluku Tengah

 

Kecamatan

Ibu Kota Kecamatan

Luas Wilayah

(Km2)

Jumlah

Negeri

Kelurahan

1

2

3

4

5

1. Banda

Banda Neira

172,00

12

2. Tehoru

Tehoru

248,22

10

3. Amahai

Amahai

1.619,07

13

1

4. Kota Masohi

Masohi

37,30

-

5

5. T, Elpaputih

Sahulau

120,00

7

6. TNS

Waipia

24,28

16

7. Saparua

Saparua

176,50

17

8. Nusalaut

Ameth

32,50

7

9. P. Haruku

Pelauw

150,00

11

10. Salahutu

Tulehu

151,82

6

11. Leihitu

Hila

147,63

11

12. Leihitu Barat

Larike

84,47

5

13. Seram Utara

Wahai

7.173,46

13

14. Seram Utara Barat

Pasanea

705,48

12

15. Seram Utara Timur Kobi

Kobi

280,65

12

16. Seram Utara Timur Seti

Kobisonta

186,19

10

17. Teluti

Laimu

286,00

10

Jumlah

11,595.57

172

6

Sumber : Maluku Tengah Dalam Angka,2012

 

1.1. Kondisi Geografis dan Topografis

Secara Astronomi, Kabupaten Maluku Tengah setelah pemekaran terletak diantara 2o30’ – 7o30’ LS dan 250o – 132o30’ BT, dan merupakan daerah kepulauan dengan jumlah pulau sebanyak 53 buah, dimana yang dihuni sebanyak 17 buah dan yang tidak dihuni sebanyak 36 buah.

Bentuk wilayah Kabupaten Maluku Tengah dikelompokkan berdasarkan pendekatan fisiografi (makro relief), yaitu Dataran, Pantai, Perbukitan dan Pegunungan dengan kelerengan yang bervariasi. Tercatat sebanyak 2 dataran, 3 gunung, 2 danau dan 144 buah sungai berada di wilayah Kabupaten Maluku Tengah.

Struktur geomorfologi di Pulau Seram, Ambon, Banda dan sekitarnya dapat dibedakan atas struktur: vulkan, horizontal, lipatan, dan patahan, sedangkan batuan utama terdiri atas batuan vulkanis, terobosan, gamping, sekis, dan aluvium. Tanah yang berkembang di Kabupaten Maluku Tengah menurut Lembaga Penelitian Tanah Bogor, terdiri atas jenis organosol, aluvial, renzina, grumusol, podsolik dan tanah kompleks.

1.2. Geologi

Kepulauan Maluku terbentuk oleh tumbukan 3 (tiga) lempeng utama, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Pasifik dan lempeng Eurasia, dengan tipe penunjaman, membentuk busur vulkanis dan busur non vulkanis, yang keduanya melengkung ke barat. Busur vulkanis ditempati oleh gugusan pulau bergunung api, baik gunung api tersier maupun kwarter, sedangkan busur non vulkanis tersusun oleh berbagai macam batuan yang tidak ikut masuk ke dalam bumi pada waktu penunjaman atau sering disebut baji melange. Batuan pada busur non vulkanis tersusun oleh batu gamping, sekis, batu sabak (graywacke), batu pasir dan lempung. Kepulauan Banda hingga Pulau Ambon menempati busur vulkanis, sedangkan busur non vulkanis ditempati oleh pulau-pulau terselatan, Kepulauan Kai, Pulau Seram dan Pulau Buru. Proses tektonis menyebabkan terjadinya beberapa sesar utama dengan pola memanjang pulau, sedangkan sesar sekunder dapat memotong atau sejajar sesar utama, membentuk beberapa lembah, sungai, perbukitan dan pegunungan blok. Secara umum, kondisi geologi Kabupaten Maluku Tengah terbentuk dari batuan penyusun meliputi batuan sedimen, batuan, vulkanis, batuan terobosan, dan batuan hasil proses tektonis.

Pulau Seram memiliki dataran dengan genesa yang berlainan. Dataran pantai utara Seram terluas di Provinsi Maluku, terbentuk oleh proses fluvial, dengan relief datar hingga landai. Lebar dataran maksimal mencapai 20 km, terdapat di selatan Negeri Pasahari. Relief berbukit hingga bergunung di pulau Seram didominasi oleh batu gamping, sekis dan batu pasir kuarsa, Pulau Seram mempunyai ketinggian dari 0 - 3.027 meter dpal (Puncak Gunung Binaya).

Sesuai dengan keberadaan Pulau Seram dijalur lingkaran Api Pasifik yang mengalami tekanan kompresional lateral dan pengangkatan secara vertikal, maka sesuai kemampuan peta Geologi (Lembar Masohi, Maluku P3G 1993), Kabupaten Maluku Tengah di susun oleh berbagai unsur struktur Geologi sebagai berikut :

(1) Perlipatan berupa Antiklin dan Sinklin yang melibatkan formasi Manusela, berarah Timur – Barat.

(2) Patahan Anjak (Thrust Fault) yang mengontrol bagian inti (Tengah) Kabupaten Maluku Tengah melibatkan Komplek Tehoru, Komplek Sahu, Formasi Kanikeh, Komplek Taunusa, dan Formasi Wahai, juga berarah Timur – Barat dan melengkung Cembung ke Utara.

(3) Patahan/ Sesar Mendatar Tenggara – Barat Laut, dan Timur Laut – Barat Daya, melibatkan Komplek Taunusa, Komplek Tehoru, Komplek Sahu dan seluruh formasi lainnya dari Umur Perm – Tersier Akhir.

Keseluruhan Struktur Geologi tersebut menurunkan intensitas tinggi di bagian Tengah Kabupaten Maluku Tengah, yang menjadi medium rambat gelombang gempa yang dapat terjadi di daerah ini seperti telah diuraikan sebelumnya terkait dengan pembahasan mengenai bahaya bencana geologi.

1.3. Hidrologi

Kondisi hidrologi yang didiskripsikan adalah hidrologi permukaan (sungai), Berdasarkan luas daerah aliran sungai (DAS), di Kabupaten Maluku Tengah dapat dikelompokkan ke dalam 2 (dua) sistem sungai berdasar kondisi pulaunya, yaitu sistem sungai Pulau Seram, dan sistem sungai pulau-pulau kecil, meliputi : Haruku, TNS, Saparua, Salahutu, Leihitu, Nusa Laut, dan Banda. Sistem sungai besar terdapat di Pulau Seram, yang dibatasi oleh igir pegunungan di bagian tengah, membentang dari Tanjung Sial di Seram Barat hingga sebelah utara Gule-Gule di Seram Timur, yang memisahkan sistem sungai bagian utara dan sistem sungai bagian selatan Pulau Seram. Pada umumnya sungai-sungai yang terdapat di Pulau Seram, baik sungai besar maupun kecil, relative bersifat perenial, artinya mengalir sepanjang tahun, walaupun pada musim kemarau mengalami penurunan debit aliran. Di pulau Seram bagian tengah yang termasuk wilayah Kabupaten Maluku Tengah, water devider bergeser ke bagian selatan, sehingga daerah aliran sungai di bagian utara lebih luas. Sistem sungai yang berkembang di bagian utara adalah DAS Toloaran, Kua, Tolohatala, Moa, Isal, Sarupu, Samal, dan Kobi, serta beberapa sistem sungai kecil yang banyak terdapat di wilayah utara. Sistim sungai yang relatif besar berkembang di bagian selatan hanya ada 2 yaitu: DAS Kua dan Tolohatala. Sistem sungai di Seram bagian tengah berhulu di Gunung Kobipoto, Pegunungan Murkele Kecil, Pegunungan Manusela, dan Gunung Masnabem.

Berdasarkan hasil pengamatan atas sistem percabangan sungai, luas daerah aliran, morfometri saluran, kondisi muara dan debit aliran, di Pulau Seram yang masuk wilayah Kabupaten Maluku Tengah, dan pulau-pulau kecil lainnya, terdapat 1 (satu) sungai besar, yaitu: sungai Ruatan, dan 16 (enam belas) sistem sungai kecil hingga sedang, yang dapat dikatakan mengalir sepanjang tahun (perenial), yaitu Kawa, Pia, Mala, Ela, Toloherela, Kua, Toloaran, Mual, Isal, Sarupu, Samal, Kobi, Hila, Salahutu, Haruku, dan Nusa Laut. Sistem sungai- sungai kecil di Pulau Haruku, TNS, Saparua, Salahutu, Leihitu, Nusa Laut, dan Banda umumnya merupakan sungai dengan aliran tunggal atau sedikit percabangan, panjang alur relatif pendek dan lurus, serta daerah aliran yang sempit.

Sebagaimana disajikan dalam tabel 3 diketahui bahwa di Kabupaten Maluku Tengah terdapat 144 buah sungai yang dapat digunakan masyarakat sebagai sumber air bersih maupun sebagai pengairan lahan pertanian. Jumlah sungai yang paling banyak ditemukan di Pulau Seram, terutama di bagian Utara Pulau Seram, sedangkan di bagian Selatan jumlah sungai terbanyak hanya ditemukan di Kecamatan Tehoru. Tingginya jumlah sungai yang terdistribusi di bagian Utara Pulau Seram merupakan kondisi yang terbentuk karena pembentukan topografi lahan darat yang cenderung berbentuk V. Sedangkan support massa air tawar yang memasuki wilayah lembah (yang berbentuk V) ini karena tingginya tutupan vegetasi pada wilayah itu, sehingga fungsi tangkapan air masih tetap berjalan. Walaupun demikian, telah banyak lahan hutan mengalami pembukaan, terutama untuk aktifitas HPH, HTI, dll.

Tabel . 1.

Distribusi Sungai Per Kecamatan di Wilayah Kabupaten Maluku Tengah

 

Kecamatan

Nama Sungai

Jumlah

Seram Utara

Seram Utara

Timur Kobi*)

Seram Utara

Timur Seti *)

Wae Wahai Besar, Wae Tolo Aran, Wae Minai, Wae Isal, wae Sarupu, Wae Siatele, Wae Samal, wae Kobi I, Wae Kobi II, Wae Loping, Wae Boti, Wae Musala, Wae Namto, Wae Akebobo, Wae

Kua, Wae Batukapira, WaeMoa, Wae Salawai, Wae Tolohatala, Wae Saka, Wae Sapalewa, Wae Musa, Wae Wailulu, Wae Herlau, Wae Karlutu, Wae Latea, dan Wae Supola.

28

Amahai

Wae Nanie, Wae Sanahu, Wae Pupukala, Wae Mamua, Wae Wamelo, Wae Epe, Wae Omo, Wae Ina, Wae Mala, Wae Kala, Wae Puty, Wae Uwe, Wae Papa, Wae Aleo, Wae Ruata, Wae Noa, Wae Rano, Wae Haruru, Wae Ara, Wae Kokolono, Wae Imolo, Wae Mumo, Wae Ulano, Wae Ara, Wae Hasamalano, Wae Salari, Wae Mondoano, Wae Musio, Wae Afaito, Wae Hiapariu, Wae Hatueno, Wae Kele, Wae Napara, Wae Unama, Wae Pia, Wae Laurisa, Wae Isa, Wae Yon, Wae Uku, Wae tala, Wae Upa, Wae Nama, Wae Tuton, Wae Putih, Wae Lusin, Wae Yahalai,Wae Lateri, Wae Yala, Wae Kakau, Wae Yoi, dan Wae Nama,

47

Tehoru

Teluti*)

wae Misa, Wae Waya, Wae Salolo, Wae Hina, Wae Nula, Wae Yapane, Wae Supulesy, Wae Simamole, Wae Tuny, Wae Kawa, Wae Nua, Wae Makariki, Wae Lua, Wae Sapoles, Wae Putih, Wae Kaba

20

TNS

Wae Pia, Wae Tonetana, Wae Haruru, Wae Kusi, Wae Noa.

5

Saparua

Wae Potang-potang, Wae Ulono, Wae sisil, Wae Ila, Wae Kalapory, Wae Walhase.

6

P. Haruku

Wae Marakee, Wae Upa, Wae Lapa, Wae Yira, Wae Lompa.

5

Salahutu

Wae Tatiri, Wae Yari, Wae Selaka, Wae Rutung, Wae Lasai, Wae Atua

6

Leihitu

Leihitu barat*)

Wae Ili, Wae Sula, Wae Simo, Wae Ura, Wae Salak, Wae Seket, Wae Latu, Wae Walong, Wae Wakal, Wae Mamua, Wae Toma, Waer Tahoka, Wae Kaitetu, Wae Seit, Wae Walalwa, Wae Ela, Wae Mui, Wae Matila, Wae Sea, Wae Kulelu, Wae Pula, Wae Larike, Wae Tapi, Wae Alang Lama, Wae Namakali, Wae Liliboi, Wae

Hatue.

27

Total Jumlah

144

Sumber : Maluku Tengah Dalam Angka,2012


1.4. Klimatologi

Secara umum kondisi iklim di Kabupaten Maluku Tengah didominasi oleh curah hujan yang relatif tinggi, yang ditunjukkan dengan kondisi vegetasi hutan yang rapat dan tumbuh subur. Kabupaten Maluku Tengah terletak pada di wilayah ini terbentuk tipe iklim hutan hujan tropis dan iklim musim, dengan curah hujan rata-rata tahunan yang tinggi. Seperti wilayah Indonesia lainnya, di wilayah ini hanya terdapat 2 musim dalam setahun, yaitu musim penghujan yang dimulai pada bulan Oktober dan musim kemarau yang dimulai pada bulan April, dengan bulan basah lebih lama dibanding dengan bulan kering. Kabupaten Maluku Tengah terletak antara Laut Pasifik dengan Laut Banda, sehingga sering terjadi pusaran angin dan arus laut, maka pada saat musim penghujan sering tejadi badai hujan (storm) yang sangat memungkinkan terjadinya banjir besar.

Berdasarkan Peta Isohyet (Direktoral Jenderal Cipta Karya, 1996), curah hujan rata-rata tahunan di Pulau Seram dan sekitarnya berkisar antara 2000­-4000 mm. Curah hujan tertinggi (>4000 mm/tahun) terkonsentrasi di jalur perbukitan bagian tengah Pulau Seram, di sekitar Tehoru. Berdasarkan klasifikasi Oldeman, zona agroklimat di Kabupaten Maluku Tengah dapat dikelompokkan berdasarkan kondisi fisiografinya, yaitu: (a) pada satuan dataran rendah dengan ketinggian <500 meter dpal, temperatur udara berkisar antara 25.8°-27.2°C, curah hujan antara 1.000-4.500 mm/tahun, hujan tersebar merata, jumlah bulan basah antara 3-9 bulan basah per tahun; (b) pada satuan dataran tinggi dengan ketinggian >500 meter dpal, temperatur udara rata-rata 26,2°C, curah hujan antara 3.000-4.000 mm/tahun, dan >9 bulan basah.

1.5. Oceanografi

Keadaan oceanografi (kelautan) di sekitar perairan sekitar Kabupaten Maluku Tengah mempunyai arti penting dalam menunjang pekembangan wilayah tersebut, karena selain dapat dipergunakan sebagai salah satu prasarana transportasi antar wilayah yang cukup vital bagi aktifitas dan pergerakan orang dan barang (kegiatan ekonomi), juga menyimpan berbagai potensi sumber daya kelautan yang belum tergarap secara optimal. Wilayah perairan ini memiliki karakteristik kedalaman laut yang sangat bervariasi mulai dari perairan yang landai, terjal dan sangat terjal.

Terdapat beberapa kawasan pesisir pantai yang landai terdiri dari selain hamparan pasir juga terdapat paparan batuan, ceruk dan muara sungai serta daerah esturia yang kaya akan berbagai jenis planton. Kedaan ini merupakan potensi alami yang prospektif untuk kegiatan perikanan, perhubungan laut maupun kegiatan pariwisata.

1.6. Kondisi Tanah dan Batuan

Struktur tanah yang terdapat pada wilayah Kabupaten Maluku Tengah cenderung serupa antara satu dengan yang lain, hal ini dikarenakan kondisi geografis yang tidak berbeda secara signifikan antara satu pulau dengan pulau lainnya. Struktur tanah sangat mempengaruhi keberadaan vegetasi suatu wilayah, dengan kata lain dapat diidentifikasi struktur tanah berdasarkan jenis vegetasi yang dapat hidup pada wilayah ini, mengingat bahwa kontur wilayah yang merupakan indikasi tekstur ketinggian wilayah lebih mempunyai tingkat ketepatan dalam menentukan jenis vegetasi. Sampai dengan saat ini ditemukan 7 jenis karakteristik tanah yang berbeda, tanah tersebut merupakan jenis tanah yang dikelompokkan berdasarkan jenis vegetasi sebagaimana disajikan dalam tabel berikut.

Tabel . 2.

Jenis Tanah dan Vegetasi di Wilayah Kabupaten Maluku Tengah

Jenis Tanah

Uraian

Vegetasi

Regosol

Tanah ini memiliki solum dalam, dengan tekstur sedang, dan berdrainase sedang sampai baik. Tanah ini berasosiasi dengan jenis-jenis tanah aluvial, gleisol dan kambisol

Vegetasi yang ditemukan pada jenis tanah ini adalah tanaman pertanian dominasi kelapa, tanaman campuran, vegetasi khusus daerah pantai seperti ketapang, waru dan jenis-jenis Pescapprae

Aluvial

Tanah ini memiliki solum sedang sampai dalam, dengan tekstur sedang dan berdrainase buruk. Jenis tanah ini berasosiasi dengan jenis-jenis regosol, gleisol dan kambisol

Vegetasi umumnya disominasi oleh tanaman pertanian dominasi kelapa dan tanaman campuran.

Gleisol

Tanah ini memiliki solum sedang sampai dalam, dengan tekstur sedang dan berdrainase buruk, jenis tanah ini berasosiasi dengan jenis-jenis tanah regosol, aluvial dan kambisol

Vegetasi yang ditemukan selain pandan rawa, sagu dan mangrove, ditemukan pula tanaman pertanian dominasi kelapa dan tanaman campuran (tanaman setahun dan tahunan) yang menyebar secara sporadis

Kambisol

Tanah ini memiliki solum sedang sampai dalam, bertekstur halus sampai agak kasar, dan berdrainase baik. Tanah ini berasosiasi dengan jenis tanah regosol, aluvial, litosol, brunizem dan podsolik

Vegetasi yang ditemukan adalah tanaman pertanian dominasi kelapa, tanaman campuran, tanaman tahunan, kebun, ladang, hutan primer dan sekunder

Rensina

Tanah ini memiliki solum dangkal sampai sedang dengan tekstur sedang sampai halus dan berdrainase baik, berasosiasi dengan jenis-jenis tanah litosol, kambisol, brunizem dan podsolik

Vegetasi yang ditemukan adalah hutan sekunder, primer dan tanaman campuran

Brunizem

Tanah ini memiliki solum tanah dalam sampai sangat dalam, dengan tekstur halus dan berdrainase baik. Umumnya memilki kejenuhan basa 50 % atau lebih. Tanah ini berasosiasi dengan jenis-jenis tanah litosol, rensina, kambisol dan podsolik

Vegetasi yang ditemukan adalah tanaman pertanian, hutan sekunder dan primer

Podsolik

Tanah ini memiliki solum tanah dalam sampai sangat dalam, dengan tekstur halus dan berdrainase baik. Tanah ini berasosiasi dengan jenis-jenis tanah kambisl, litosol, brunizem

Vegetasi yang ditemukan adalah tanaman pertanian, tanaman campuran (tanaman tahunan dan ladang), hutan sekunder dan primer

 

Sementara itu, terdapat 16 satuan batuan yang tersebar di Kabupaten Maluku sebagaimana disajikan dalam tabel 2.8 berikut.

Tabel . 3.

Jenis Batuan dan Sebarannya di Kabupaten Maluku Tengah

 

No

Jenis Batuan

Lokasi

1.

Komplek Taunusa batuan metamorf/melihat berderajat amphibolit (sekis genes, kuarsit, tillit dan marmer pualam yang berumur perem (Paleozoikun)

Tersebar di tiga tempat yaituTaunusa, Silotabatu, dan Gunung Kobifoto, yang terpotong potong oleh patahan

2.

Komplek Toheru berupa batuan metamorf/malihan berfasies sekis hijau (Fillit, batu saba, sekis psamit, dan metagamping/termamerkan, yang berumur trias bawah (Mesozoik Awal)

Tersebar sangat luas membujur kearah Timur – Barat dibagian selatan Kabupaten Maluku Tengah

3.

Komplek Saku berupa batusabak, metagrewake, metaarkose, batugamping dan konglomerat, yang berumur Trias Atas (mesozoik Awal Bagian Atas)

Tersebar mengikuti pola persebaran Komplek Tehoru pada bagian Tengah Kabupaten Maluku Tengah dari Teluk Teluti

4.

Komplek Saku berupa batusabak, metagrewake, metaarkose, batugamping dan konglomerat, yang berumur Trias Atas (mesozoik Awal Bagian Atas)

Tersebar mengikuti pola persebaran Komplek Tehoru pada bagian Tengah Kabupaten Maluku Tengah dari Teluk Taluti

5.

Formasi Kanikeh berupa batuan sedimen tipe flish/turbidit (grewake, arkosa, batulanan, serpih, rijang, dan konglomerat) berumur Jura (Mesozoikum Tengah)

Tersebar pada wilayah Timur Tengah, dengan kontak sebagian berupa struktur patahan

6.

Formasi Manusela berupa batugamping olitan, berumur Jura (Mesozoikum Tengah)

Tersebar meluas dibagian Tengah bersifat lokalan di Timur dan Barat Kabupaten Maluku Tengah

7.

Komplek Batuan Beku Ultrabasa – Ultramafik (Gabrro plagioklas, Gabbro hornblenda, Serpentinit, horzbugit, duit dan Lherzoit)

Tersebar secara lokalan sangat terbatas dibagian Barat Kabupaten Maluku Tengah

8.

Formasi Sawai berupa batugamping Kalsilutit, serpih merah, dan rijang yang mengandung radolaria

Tersebar secara lokalan dibagaian Timur dan Utara bagian Tengah serta Utara bagian Barat, berumur Kapur (Mesozoikum Atas)

9.

Formasi hatuaolo berupa serpih pasiran, napal, dan rijang, berumur Eosen – paleosen (tersier Awal) / (Kenozikum Awal)

Tersebar lokalan di bagian Timur Kabupaten Maluku Tengah

10.

Komplek Salas berupa bongkah-bongkah berbagai jenis batuan sedimen, beku, dan malihan di dalam massa dasar lempung berstruktur seperti sisik ikan dengan terdiri dari konglomerat, grewake, batugamping, rijang, lanau, batulempung, Serpentinit, piroksenit, denit, gabbro, diabas, diorit, sekis, genes, dan fillit merupakan batuan bancah atau "Melange tectonic", yang berumur Miosen – Pliosen (Tersier Atas/Kenozoikum tengah)

Tersebar sedikit memanjang dibagian Timur, Tengah, Utara Kabupaten Maluku Tengah.

12.

Formasi Wahai berupa Napal, batugamping pasiran, batupasir, dan napal tutan yang berumur Pliosen Awal (Tersier Atas/Kenozikum Tengah)

Tersebar di wilayah Timur bagian Utara Kabupaten Maluku Tengah

13.

Batuan Gunung Api Ambon berupa lava, breksi gunung api, breksi tuf, dan tuf, berumur Pliosen Atas (Tersier Atas/Kenozoik Tengah bagian Atas)

Tersebar di Pulau Nusa laut, P. Saparua, Timur dan Barat, serta P. Haruku Barat bagian Selatan

14.

Formasi Fufa terdiri atas batu pasir, lanau, napal, lempung, konglomerat, batugamping, dan gambut, berumur Plio – pleistosen (Tersier Atas – Kuarter Awal / Kenozikum Atas)

Tersebar pada dataran pantai Utara (lebih luas) dan pantai selatan (relatif lebih sempit penyebarannya)

15.

Endapan teras berupa konglomerat, rijang merah, sekis, fillit, batupasir, lempung pasiran lateritis, dan batugamping terumbu yang bersilang jari dengan batu gamping koral (terumbu), berumur holosen (Kuarter Atas/Kenozikum Atas)

Tersebar di teluk Elputih dan lokalan di Pantai Utara Kabupaten Maluku Tengah

16.

Endapan Aluvium berupa lanau, pasir dan kerikil yang berumur Holosen Atas (Kuarter Atas / Kenozoikum Atas)

Tersebar meluas di wilayah Utara Kabupaten Maluku Tengah

 

1.7. Jumlah dan Kepadatan Penduduk

Pertumbuhan penduduk dipengaruhi oleh 4 (empat) komponen yaitu, tingkat kelahiran (fertilitas), tingkat kematian (mortalitas), migrasi masuk dan migrasi keluar. Dengan kata lain pertumbuhan penduduk adalah merupakan keseimbangan yang dinamis antara lahir, mati, datang dan pergi.

Penduduk Kabupaten Maluku Tengah berdasarkan hasil Sensus Penduduk Tahun  1980, 1990, 2000, dan 2010 berjumlah masing-masing sebesar : 229.581, 295.059, 317.476, 361.698 jiwa. Dari keempat sensus penduduk tersebut dapat pula diperoleh rata-rata pertumbuhan penduduk antara Sensus Penduduk Tahun 1980,1990, 2000, dan 2010 sebesar  2,30 %, 1,48 %, 1,03 %, dan 1,31%.

Hasil proyeksi penduduk Kabupaten Maluku Tengah tahun 2012 sebanyak 375.393 jiwa, berbeda dari tahun 2010 sebanyak 361.698 jiwa, dimana jumlah penduduk tahun 2010 merupakan hasil Sensus Penduduk 2010. Jumlah penduduk terbanyak berada di Kecamatan Leihitu sebesar 48.756 jiwa (12,98 % dari jumlah penduduk Kabupaten Maluku Tengah).

 

Tabel . 4.

Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan, Jenis Kelamin

dan jumlah kepadatan penduduk (Jiwa/Km²)

 

KECAMATAN

Luas Wilayah (Km²)

Penduduk (Jiwa)

Kepadatan Penduduk (jiwa/Km²)

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

B a n d a

172,00

9.475

9.582

19.057

110,80

Tehoru

405,72

9.644

9.119

18.763

46,25

Teluti

128,50

5.193

5.016

10.209

79,45

Amahai

1.619,07

20.598

19.412

40.010

24,71

Kota Masohi

37,30

16.166

16.186

32.352

867,35

Teluk Elpaputih

120,00

5.841

5.281

11.122

92,68

Teon Nila Serua

24,28

6.812

6.401

13.213

544,19

Saparua

176,50

16.492

16.882

33.374

189,09

Nusalaut

32,50

2.790

2.679

5.469

168,28

Pulau Haruku

150,00

12.432

12.445

24.877

165,85

Salahutu

151,82

23.840

24.156

47.996

316,14

Leihitu

147,63

24.053

24.226

48.279

327,03

Leihitu Barat

84,47

8.643

8.497

17.140

202,91

Seram Utara

7.173,46

8.468

7.988

16.456

2,29

Seram Utara Barat

705,48

5.015

4.501

9.516

13,49

Seram Utara Timur Kobi

280,65

5.579

4.782

10.361

36,92

Seram Utara Timur Seti

186,19

7.125

6.393

13.518

72,60

2011

11.595,57

188.166

183.546

371.712

32,06

2010

11.595,57

183.096

178.602

361.698

31,19

2009

11.595,57

189.868

181.063

370.931

31,99

 

Sumber data BPS Maluku Tengah

 

Indonesian English French German Hindi Italian Portuguese Russian Spanish

Kepala Daerah

Pariwisata

Wisata Sejarah di Kecamatan Leihitu

Wisata Sejarah di Kecamatan Leihitu

A. Benteng Amsterdam...
23 November 2013
Banda Naira

Banda Naira

Berbicara banda neira...
13 November 2013
Benteng Belgica

Benteng Belgica

Benteng Belgica pada...
13 November 2013
Upacara Pukul Sapu

Upacara Pukul Sapu

Upacara ini gelar untuk...
13 November 2013
Bambu Gila

Bambu Gila

Mantra, kemenyan, dan...
13 November 2013

Layanan Aduan

Statistics Pengunjung

  • Kunjungan : 271084