Wisata Sejarah di Kecamatan Leihitu

PDFCetakSurel

A. Benteng Amsterdam


Benteng Amsterdam terletak di Desa Hila Kecamatan leihitu. Benteng ini di bangun oleh bangsa Portugis dan pada awalnya digunakan sebagai loji tempat penyimpanan rempah-rempah (Pala dan cengkih). Setelah diambil alih Belanda, gudang penyimpanan rempah-rempah itu dijadikan benteng VOC. Sekitar tahun 1640, Gubernur Gerard Demmer memugarnya bangunan ini dan berganti nama menjadi Benteng Amsterdam.

Untuk menuju Benteng Amsterdam di Desa Hila anda dapat menempuh perjalan darat dari pusat kota Ambon dengan menggunakan angkutan umum maupun charteran. Jarak dari pusat Kota yakni kurang lebih 35 Km ,sedangkan dari Bandara Pattimura kurang lebih 25 Km. Nah dalam perjalanan menuju Ibu Kota Kecamatan Leihitu ini (Hila) mata anda akan dimanjakan dengan pemandangan yang luar biasa, mulai dari Teluk baguala dengan airnya yang jernih dan tenang, selanjutnya anda akan disuguhi pemandangan pegunungan tatkala mulai memasuki kawasan Kecamatan Leihitu. Jalan berkelok mendaki dan menurun dengan pemandangan alam yang mempesona lebih terasa makin menyapa saat lambaian pohon cengkih dan pala menari gemulai di kiri kanan jalan. Satu lagi yang istimewa saat memasuki Kecamatan ini anda akan kembali disuguhi pemandangan Pantai yang indah dari ketinggian bukit karang di desa Hitu. Tidak sampai disitu saja, dari desa hitu menuju pusat Kecamatan (Desa Hila) hamparan pasir putih dengan kilauan cahaya yang bermain di riak air laut akan senantiasa mendampingi perjalanan anda. “Tidak ada salahnya jika anda hendak rehat sejenak guna menikmati hembusan angin laut”.

Adapun yang dapat anda saksikan pada Benteng Amsterdam yakni berupa perlengkapan perang milik belanda dan juga barang pecah belah yang telah berusia ratusan tahun. untuk tambahan di Desa Hila juga terdapat banyak Rumah Tua (Rumah Marga) yang telah dinyatakan oleh pemerintah sebagai bangunan cagar budaya.

Sekedar informasi yang tidak boleh anda lewatkan, dari Benteng Amsterdam anda dapat menyaksikan indahnya sunset serta megahnya pesisir pantai pulau seram (Nusa Ina)

 

B. Gereja Tua Imanuel

Masih di Desa Hila, tidak jauh dari Benteng Amsterdam (50 Meter) ke arah selatan terdapat bangunan sejarah yang tak kalah menarik yakni Gereja Tua Imanuel yang mana merupakan bangunan kedua yang di bangun oleh Belanda di Pulau Ambon. Gereja ini sendiri pernah beberapa kali di pugar namun bentuk aslinya tetap di pertahankan. Sayangnya konflik SARA yang berlangsung di wilayah Maluku juga berimbas pada bangunan bersejarah tesebut. Dan setelah angin perdamaian mulai tertiup di Bumi Para Raja Gereja Tua Imanuel pun kembali di bangun, dengan arsitektur bentuk yang sama.

 

 

C. Mesjid Tua Wapaue

Masih di Kecamatan yang sama dan hanya berjarak 150 meter dari Benteng dan Gereja Tua menuju arah selatan berdiri kokoh hingga sekarang sebuah bangunan bersejarah yang hingga detik ini bentuk aslinya masih dipertahankan.

"Mesjid Wapaue," Begitulah masyarakat menyebutnya. Nama Wapaue sendiri dalam bahasa daerah Kaitetu (Desa dimana Situs bersejarah ini berada) berarti dibawah pohon mangga barabu atau juga dikenal dengan sebutan mangga hutan (Istilah orang Ambon), yah' mungkin karena disekitaran Mesjid Tua ini banyak terdapat pohon tersebut.

Mesjid Tua  Wapaue di bangun pada tahun 1414 dan sebagaian kalangan menilai bahwa Mesjid ini merupakan Mesjid tertua di Indonesia. Namun entah kenapa hingga saat ini, Sejarah yang kita ketahaui dari buku-buku pelajaran bahwa mesjid yang tertua adalah Mesjid Demak.

berangkat dari kontroversi tersebut mari kita beralih pada peninggalan-peninggalan peradaban Islam yang masih tersimpan dengan rapi di Mesid ini. Diantaranya :

Mushaf tulisan tangan yang menurut penelitian Abdul Bagir Zein, isi dalam masjid ini dihiasi dengan mushaf al-Qur‘an yang merupakan mushaf tertua di Indonesia, yaitu mushaf Imam Muhammad Arikulapessy (imam pertama masjid Wapaue) yang selesai ditulis tangan di atas kertas Eropa pada tahun 1550.

Mushaf Nur Cahya (cucu Imam Muhammad Arikulapessy) yang selesai ditulis pada tahun 1590. Nur Cahya juga menulis karya-karya lain yang juga ditempatkan di dalam masjid, yaitu kitab Barzanji (yang berisi tentang riwayat dan pujian-pujian kepada Nabi Muhammad SAW). Kumpulan khutbah Ramadhan tahun I661, kalender Islam tahun 1407, dan manuskrip Islam lainnya yang telah berumur ratusan tahun.

Batu dan timbangan kayu untuk menentukan jumlah zakat fitrah bagi penduduk asli pada saat itu.

Selain ketiga objek wisata sejarah yag disebutkan di atas, ada juga beberapa lokasi bersearah lainnya yang juga berada dalam Kecamatan Leihitu. Yakni,

Benteng Kapahaha yang terletak di Desa Morela (11 Km dari Kota Kecamatan/Hila) Benteng yang terletak di daerah strategis ini (Tebing Terjal) merupakan pusat perlawanan para pejuang Tanah Hitu  beserta dengan para kapitan dan malesi dari Nusa Ina dalam melawan kolonial Belanda dalam perang Kapahaha

Sekitar 20 Km ke arah barat dari Ibu Kota Kecamatan Leihitu, yakni di Desa Negeri Lima juga terdapat sebuah benteng milik VOC yang terletakdi tepian pantai, namun struktur bangunan dan peninggalan-peninggalan lainya sangat tidak terawat.

 

 

Indonesian English French German Hindi Italian Portuguese Russian Spanish

Kepala Daerah

Pariwisata

Wisata Sejarah di Kecamatan Leihitu

Wisata Sejarah di Kecamatan Leihitu

A. Benteng Amsterdam...
23 November 2013
Banda Naira

Banda Naira

Berbicara banda neira...
13 November 2013
Benteng Belgica

Benteng Belgica

Benteng Belgica pada...
13 November 2013
Upacara Pukul Sapu

Upacara Pukul Sapu

Upacara ini gelar untuk...
13 November 2013
Bambu Gila

Bambu Gila

Mantra, kemenyan, dan...
13 November 2013

Statistics Pengunjung

  • Kunjungan : 260182