Slide

TAMAN NASIONAL MANUSELA

PDFCetakSurel

Terakhir Diperbaharui pada Jumat, 08 November 2013 19:47 Ditulis oleh Administrator Jumat, 08 November 2013 19:01

Taman Nasional Manusela dikenal sebagai objek wisata alam dengan daya tarik tersendiri dengan pemandangan alam yang indah dan menarik serta topografi berbukit-bukit di antaranya tepi Markele, lembah Manusela, tepi Kobipoto, dataran Mual sebelah utara dan lembah Wae Kawa di sebelah selatan. Atraksi yang bisa dinikmati adalah menjelajah hutan, panjat tebing, pengamatan satwa/tumbuhan.

Kawasan Taman Nasional Manusela banyak memiliki keunikan dan kekhasan, seperti lembah Manusela dengan pemandangan alamnya yang menarik dan keadaan iklimnya yang segar dan menyenangkan, lembah Piliana yang kaya akan jenis kupu-kupu, Sawai dengan aneka karang lautnya yang indah sangat cocok untuk kegiatan snorkeling dan diving disamping itu di daerah Sawai dan sekitarnya juga dapat dinikmati pemandangan tebing sawai yang indah atau wisata tirta yang dapat dinikmati dengan menggunakan fasilitas kapal cepat dan longboat milik Balai Taman Nasional Manusela. Pusat informasi Taman Nasional Manusela juga terdapat di Negeri Sawai tepatnya di sekitar Dusun Masihulan. Pengelolaan wisata alam di Sawai dan sekitarnya melibatkan multipihak seperti LSM (Yayasan Wallacea yang mengelola PRS Masihulan), Pemerintahan Negeri Sawai sebagai perwakilan Pemerintahan Daerah Maluku dan pihak masyarakat atau pengusaha yang berperan aktif dalam mengembangkan kegiatan wisata alam di daerah Sawai dan sekitarnya , air panas di Tehoru serta kegiatan safari rusa di padang Pasahari.

Di kawasan Taman Nasional Manusela banyak ditemukan bunga anggrek, bunga bangkai (Rafflesia sp.), hutan yang khas dan indah, vegetasi alpin dan pakis endemik yang sangat disukai rusa karena merupakan pakan rusa yang enak. Selain itu, Taman Nasional Manusela dapat dimanfaatkan sebagai sarana/tempat penelitian lapangan karena keanekaragaman flora dan fauna langka dan endemik, penelitian farmasi (jenis tanaman obat-obatan) serta penelitian jenis tanaman yang merupakan makanan alternatif bagi masyarakat

Selain itu, di luar kawasan Taman Nasional Manusela pada daerah penyangga pada beberapa objek wisata seperti penginapan terapung di Teluk Sawai, budi daya mutiara, sumber air panas (Geiser) di Tehoru, jembatan tali dan menara pengintai secara alam dan tali-temali hutan di Piliana dan Masihulan, serta wisata budaya berupa adat istiadat kebudayaan dan upacara suku asli Pulau Seram di sekitar TNM.

Musim kunjungan terbaik adalah bulan Mei s.d Oktober setiap tahunnya.

Aksesibilitas:

Lokasi TNM dapat dicapai melalui Wahai dan Saleman dari arah pantai utara atau melalui Tehoru. Alternatif-alternatif rute perjalanan menuju TNM dapat diuraikan sebagai berikut:

  • Dari Ambon ke Saleman-Wahai dapat ditempuh dengan menggunakan kapal motor yang memakan waktu 24 jam. Kapal motor ini memiliki jadwal perjalanan 3 kali seminggu. Perjalanan dari Wahai ke lokasi taman nasional dapat ditempuh dengan jalan kaki
  • Lewat pantai selatan, TNM ditempuh melalui kota Ambon ke Tehoru-Saunulu-Mosso dengan kapal motor yang memakan waktu 9 jam. Jadwal kapal motor berjalan adalah 4 kali dalam seminggu. Perjalanan selanjutnya ke lokasi taman nasional hanya dapat ditempuh dengan jalan kaki.
  • Perjalanan lewat darat dapat dilakukan dari Ambon ke Tulehu dengan waktu tempuh 45 menit. Selanjutnya dari Tulehu ke Amahai dapat dicapai dengan long boat cepat yang memerlukan waktu 1 jam 45 menit. Perjalanan dari Amahai ke Tehoru dilakukan lewat jalan darat selama 3 jam selanjutnya diteruskan dengan speed boat ke Saunulu/Mosso selam 30-60 menit. Pengunjung dapat pula memilih rute perjalanan darat menuju taman nasional bagian utara. Rute ini ditempuh dari Amahai ke Saleman melewati Masohi yang membutuhkan waktu 3 jam dilanjutkan dengan speed boat menuju Wahai yang memakan waktu 2 jam.
  • Perjalanan memasuki TNM dari Saunulu/Mosso dilakukan dengan jalan kaki melalui jalan setapak dan mendaki tebing-tebing pegunungan sehingga pemandu dan pembawa barang sangat diperlukan.
  • Dari sisi utara, kawasan TNM dapat ditempuh melalui jalan trans-Seram dari Wahai ke Sasarata. Rute ini dapat dilalui roda empat. Selanjutnya dari Sasarata menuju kawasan taman nasional bagian tengah/selatan dapat ditempuh dengan jalan kaki menuju jalan setapak yang menghubungkan Kaloa-Hatuolo Maraina, dan Manusela. Perjalanan ini memerlukan waktu kurang lebih 2 hari.
  • Apabila pengunjung membawa kendaraan roda empat, perjalanan dilakukan dari Ambon ke Liang dengan waktu tempuh ± 1,5 jam. Selanjutnya dari Liang ke Kairatu ditempuh selama ± 2 jam dengan menggunakan ferry. Dari Kairatu ke Saka ditempuh dengan jalan darat selama ± 3,5 jam.
  • Rute terbaru untuk menuju Taman Nasional bagian utara yaitu dari Ambon bisa langsung menggunakan pesawat Merpati jenis twin otter Menuju ke Wahai, dari Wahai ke Sasarata dan selanjutnya perjalanan dilakukan dengan jalan kaki menuju kawasan
    [dephut.go.id]

 

Taman Nasional Manusela merupakan kawasan konservasi dengan luas 189.000 Ha,  dan merupakan taman nasional tipe B . Kawasan ini merupakan gabungan dari 2 cagar alam yaitu Cagar Alam Wae Nua dan Cagar Alam Wae Mual dan ditambah dengan perluasan wilayah Cagar Alam Wae Nua dan Cagar Alam Wae Mual. Secara administratif kawasan TNM termasuk di wilayah Kecamatan Seram Utara yang berkedudukan di Wahai dan Kecamatan Seram Selatan di Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah, Propinsi Maluku.

Taman Nasional Manusela secara ekologis memiliki tujuh tipe vegetasi, yaitu berturut-turut dari pantai ke puncak gunung Binaya adalah sebagai berikut : Hutan mangrove (mangrove formation) ,Vegetasi pantai ( beach formation) ,Hutan rawa dataran rendah (lowland swamp forest) ,Vegetasi tebing sungai (riverbank vegetation) ,Hutan hujan dataran rendah (lowland rain forest) ,Hutan hujan pegunungan (mountain rain forest) ,Hutan lumut (alpine/moss forest)

Potensi Flora
Kekayaan flora yang dimiliki TNM berupa 187 jenis/genus dari 55 famili diantaranya 97 jenis anggrek dan 598 jenis paku-pakuan (pakis), dimana terdapat jenis endemik paku binaya (Cyathea binayana).
Jenis vegetasi yang ada di TNM mPapua. Jenis flora zona Australia yang terdapat dalam kawasan ini antara lain Eucalyptus spp., sedangkan jenis flora khas Asia meliputi Shorea selanica (Dipterocarpacea) yaitu jenis meranti yang pertumbuhannya paling timur Indonesia, nyamplung (Calophyllum inophyllum), langsat hutan (Aglaia argentea), durian (Durio spp.) dan lain-lain.
Jenis-jenis vegetasi yang ada di TNM terdiri merupakan keturunan flora Asia/Sulawesi yang mempunyai beberapa unsur Australia-dari hutan mangrove dan hutan pantai (0-5 m dpl), hutan dataran rendah (5-100 m dpl), hutan hujan primer dataran rendah (100-500 m dpl), hutan hujan primer pegunungan (500-2.500 m dpl), lumut (2.500-2.600 m dpl).
Vegetasi hutan mangrove ditandai oleh jenis pedada (Sonneratia alba), bakau (Rhizophora apiculata), bidu (Bruguiera sexangula), api-api (Avicennia officianalis) dan nipah (Nypa fruticans). Vegetasi ini letaknya tepat di belakang pantai berpasir yang agak tinggi dan merupakan jalur sempit. Perkembangan terbaiknya berada di sekitar tanjung Wae Mual dan sungai Wae Isal. Dibelakang jalur mangrove pada rawa dataran rendah terdapat jenis-jenis butun darat (Barringtonia recemosa), beringin (Ficus nodosa) dan pulai (Alstonia scholaris).
Perkembangan terbaik vegetasi hutan pantai di sepanjang pantai bagian utara dengan jenis-jenis yang mendominir antara lain tapak kuda/katang-katang (Ipomoea pescaprae), rumput jara-jara (Spinifex littoralis), ketapang (Terminalia catappa), pandan (Pandanus sp.), dan cemara laut (Casuariana equisetifolia).

Potensi Fauna

Pulau Seram hanya memiliki delapan jenis mamalia terestrial yang asli Seram terdiri dari tiga jenis Marsupial, yaitu bandicoot/mapea (Rhyncomeles prattorum), Kusu/Kuskus (Spilocuscus maculatus dan Phalanger orientalis) dan lima jenis Rodensia, yaitu Melomys aerosus, Melomys fulgens, Melomys fraterculus, Rattus ceramicus dan Rattus feliceus.

Di Taman Nasional Manusela dapat dijumpai jenis mamalia yang lebih besar seperti Rusa (Cervus timorensis), babi hutan (Sus scrofa dan S. Celebebsis), anjing liar (Canis familiar), kucing liar (Felis catus) dan musang (Paradoxurus hermaphroditus, Vivera tangulunga).

Ada 26 jenis kelelawar di kawasan Taman Nasional Manusela antara lain Rousettus amplixicaudus, Pteropus melaopogon, Pteropus ocularis dan Macroglossus minimus (Macdenald et al., 1993).

Penelitian tentang burung di pulau Seram sudah dimulai sejak abad 17. Bowler dan Taylor (1993) menguraikan dengan jelas perkembangan penelitian tersebut. Pada saat ini kekayaan jenis burung Seram sudah diketahui sebanyak 196 species burung, 124 spesies diantaranya merupakan jenis menetap sedangkan 72 spesies adalah jenis burung migran. Sebanyak 13 jenis diantaranya merupakan jenis endemik Seram

Birdlife International Indonesia Programme telah menetapkan Daerah Burung Endemik (DBE) Seram yang mencakup pulau Seram dan pulau-pulau kecil di sekitarnya (Ambon, Saparua, Boano, dan Haruku). 30 Jenis merupakan burung dengan sebaran terbatas, yakni burung yang penyebaran berbiaknya kurang dari 50.000 km², 14 diantaranya endemik (Sujatnika et al., 1995). Jenis burung sebaran terbatas di pulau Seram ada 28 jenis, dimana 8 jenis diantaranya adalah jenis burung endemik. Kasturi tengkuk ungu (Lorius domicella) dan Kakatua Maluku (Cacatua moluccensis) kondisinya sekarang terancam punah, karena adanya penangkapan untuk diperdagangkan (Shannaz et al., 1995). selain dua jenis di atas, terdapat jenis burung endemik lain seperti Diacrum vulneratum, raja udang (Halycon lazuli, H.sancta dan Alcedo atthis), Nuri Raja/Nuri Ambon (Alisterus amboinensis), Nuri Kepala Hitam (Lorius domicella), burung madu besar (Philemon subcorniculatus), serta Kasuari (Casuarius casuarius) .

Studi tentang reptilia di pulau Seram masih jarang. Penelitian yang dilakukan pada Ekspedisi Operation Raleigh di kawasan Taman Nasional Manusela menemukan 46 jenis reptilia, terdiri dari kura-kura air tawar (1 jenis), penyu laut (4 jenis), buaya (1 jenis), kadal (24 jenis) dan ular (17 jenis) (Edgar dan Lilley, 1993).

Tingkat endemisme reptil di pulau Seram termasuk rendah, hanya satu jenis kadal endemik Seram, yaitu Dibamus seramensis. Terdapat pula Soa-soa (Hydrosaurus amboinensis), Dua jenis ular Calamaria ceramensis dan Thyphlops kraai walaupun sedikit ditemukan juga di pulau-pulau sekitarnya. Buaya (Crocodylus porousus) sering dijumpai di sungai Wae Toluarang dan Wae Mual.

Dalam kawasan Taman Nasional Manusela terdapat 8 jenis amphibia yang tergolong dalam famili Ranidae, Hylidae dan Microhylidae. Jenis-jenis yang termasuk dalam famili :

  • Ranidae adalah Platymantis papuensis, Rana modesta dan Rana grisea ceramensis
  • Hylidae adalah Litoria vagabunda, Litoria sp. (Bicolor group), Litoria amboinesis, Litoria infrafenate
  • Microhylidae adalah Phrynomantis fusca

Jenis kupu-kupu yang terdapat dalam Taman Nasional Manusela diperkirakan sebanyak 90 jenis (FAO, 1981), antara lain famili :

  • Papilionidae yaitu Ornithoptera priamus, Ornithoptera goliathorocus, Papilio ulysses, Papilio fuscusfuscus, Grafthium stresemani.
  • Pieridae yaitu Si cantik Delias manuselensis, Delias sp., Hebomoia leucippe leucippe, Valeria jobaea eisa, Enaema candida candida.
  • Danidae yaitu Idea idea, Danaus chovsippus, Danaus hanata nigra, Eupolea ciimena melina, Eupolea sp.

Ada beberapa jenis kupu-kupu endemik Seram yaitu Epimastidia staudingeri dan Hypochrysops dolechallii

Potensi biota perairan baik di sungai maupun di air laut belum dilakukan penelitian secara mendetail, walaupun secara umum dapat dikatakan bahwa di sepanjang pantai utara antara Sasarata sampai dengan Pasahari maupun di Tanjung Sawai memiliki potensi yang sangat baik.

Kondisi Topografi

Kawasan Taman Nasional Manusela yang mencakup 20% dari keseluruhan luas pulau Seram, keadaan topografinya sebagian besar bergelombang dan lahannya merupakan pegunungan kapur. Topografi yang ada ini mulai dari dataran(dataran Mual) di bagian utara, bergelombang sedang- berbukit sampai bergunung-gunung dengan ketinggian 0 – 3027 meter di atas permukaan laut.

Kemiringan berkisar antara 30 – 60 % mulai dari gunung Markele sampai gunung Binaya yang merupakan puncak tertinggi. Sebagian besar kawasan ini memiliki kelerengan yang sangat terjal dengan lembah-lembah yang dalam. Bagian yang relatif landai terletak di bagian utara sekitar Wahai dan Sasarata serta bagian selatan di daerah Hatumete, Hatu dan Woke.

Berdasarkan ketinggian tempat di atas permukaan laut, kawasan Taman Nasional Manusela dapat dibedakan menjadi empat kategori, yaitu:

a. Dataran rendah di bawah ketinggian 500 meter dpl
b. Dataran tinggi antara 500 – 1500 meter dpl
c. Daerah pegunungan dengan ketinggian antara 1500-2500 meter dpl
d. Zona sub alpin dengan ketinggian antara 2500 – 3027 meter dpl

 

PANTAI LIANG

PDFCetakSurel

Terakhir Diperbaharui pada Jumat, 08 November 2013 19:43 Ditulis oleh Administrator Jumat, 08 November 2013 14:40

Pantai Hunimua lebih dikenal dengan nama Pantai Liang karena pantai ini terletak di Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Pantai ini pernah dinobatkan oleh UNDP-PBB sebagai pantai terindah di Indonesia pada tahun 1990 dan selalu menjadi incaran para investor asing.

Memasuki obyek wisata Pantai Liang, Anda akan disambut oleh pasir putih yang berkilau terkena sinar matahari, seakan menjadi pintu masuk menuju kecantikan gradasi air laut yang biru. Sangat menggoda untuk berenang ataupun sekedar bermain air. Jika Anda hobi fotografi Anda bisa meluapkan hobi Anda di sini karena setiap sudut pantai sangat indah untuk diabadikan. Di pinggiran pantai terdapat pohon-pohon yang rindang, yang bisa Anda manfaatkan untuk beristirahat sejenak. Di pantai ini memang belum banyak tersedia fasilitas olahraga air seperti di Bali atau Lombok. Namun kecantikan alami Pantai Liang tidak kalah dengan pantai-pantai di pulau lainnya.

Pantai Liang selalu ramai dikunjungi saat liburan tiba. Jadi bagi Anda yang tidak terlalu menyukai keramaian dan ingin menyendiri sebaiknya hindari hari-hari liburan. Waktu yang tepat untuk berkunjung ke Pantai Liang yaitu ketika laut teduh dan tidak berangin, hindari berkunjung ketika musim angin barat atau angin timur karena pada saat itu laut berombak dann membuat pantai keruh. Pilihlah bulan-bulan tenang seperti September-November atau April-Mei jika ingin berkunjung ke Pantai Liang.

Dari beberapa pantai yang cukup populer di Ambon, Pantai Liang menjadi salah satu favorit warga lokal dan juga wisatawan luar. Pantai ini sudah dikenal sejak tahun 90an dan bahkan pernah disebut-sebut sebagai pantai terbaik di Indonesia. Pantai Liang  memang kerap menjadi buah bibir karena kemolekannya, termasuk di antara kalangan investor asing.

Tidak heran pada tahun 90an, beberapa investor asing pernah berniat untuk mengembangkan resort untuk menggenjot pariwisata di Liang. Namun, niat tersebut akhirnya urung direalisasikan karena adanya sengketa tanah dengan penduduk lokal. Liang memang belum go international namun pembatalan pengembangan Liang menjadi kawasan resort sebenarnya telah memberi keuntungan tersendiri. Liang, pantai eksotik ini, masih sepenuhnya menjadi milik warga.

Terletak tidak jauh dari pantai Natsepa, Liang berjarak hanya kurang lebih 35 KM dari pusat kota tepatnya di Desa Liang, Kecamatan Salahutu. Sampai tahun lalu, akses menuju kesana memang terbilang cukup sulit sebab meskipun tersedia angkutan umum namun jumlahnya sangat terbatas. Itupun hanya beroperasi pada jam-jam tertentu. Sekarang, dengan adanya Bus Trans Amboina rute Hunimua, wisatawan bisa lebih leluasa berkunjung ke Pantai Liang hanya dengan 8.500 rupiah.

Tapi, kalau Anda berencana mengunjungi Ambon bersama beberapa teman, disarankan sebaiknya menyewa angkutan umum untuk berwisata keliling Ambon sebab selain murah, juga karena Anda bisa berkunjung ke lebih banyak tempat tanpa mengkhawatirkan keterbatasan transportasi. Satu angkot biasanya bisa disewa dengan tarif 150 hingga 200 ribu sehari dan bisa menampung hingga 10 orang. Cukup terjangkau kan!

Dengan letak berdekatan, Anda bisa merencanakan perjalanan ke Pantai Natsepa, Suli dan Liang di hari yang sama. Apabila Anda berniat untuk bermalam, penginapan di sekitar Pantai Natsepa hanya satu-satunya pilihan sebab di Liang sendiri tidak tersedia penginapan. Namun, bila masih tetap bersikeras menginap di Liang, cukup siapkan tenda dan meminta ijin dari penjaga setempat. Atau, Anda bisa mencoba untuk menyewa kamar di rumah penduduk sekitar Liang.

Seperti halnya obyek wisata lain di Ambon yang minim fasilitas, Pantai Liang juga terkesan sederhana. Sebuah gerbang kecil terlihat bersiap menyambut tiap wisatawan. Kerindangan pohon di pinggir pantai menawarkan sejenak tempat beristirahat dari teriknya matahari. Beberapa bangunan bersifat sementara terbuat dari kayu terlihat menaungi pedagang lokal yang menjajakan dagangannya mulai dari minuman, makanan kecil hingga mie rebus dan rujak. Dari jarak beberapa puluh meter, siapapun pasti sudah bisa mengintip eksotiknya Pantai Liang.

Pasir putih yang berkilauan dibawah sinar matahari seakan menjadi pintu menuju kecantikan gradasi air laut yang siap menanti untuk diabadikan. Bahkan bagi fotografer amatir, mengambil jepretan Pantai Liang tidak akan pernah gagal. Tetap saja, apapun jenis kamera yang dipakai, foto yang dihasilkan selalu menawan.

Di salah satu bagian pantai, terlihat sebuah dermaga kayu sederhana menyemarakkan suasana pantai. Beberapa pengunjung terutama anak-anak biasanya terlihat asyik berloncatan dari atas dermaga dan terjun ke air. Kalau Anda pandai berenang, hal itu tentu patut dicoba. Apalagi jika membayangkan air berwarna biru cantik sudah siap menangkap Anda. Tapi jika terlalu takut untuk terjun dari dermaga, bermain air di pinggir pantai sudah lebih dari cukup untuk mewarnai hari Anda.

Sejauh mata memandang, di Liang memang tidak terlihat aktifitas olahraga air seperti yang kebanyakan ditemui di Bali dan Lombok seperti banana boat, speed boat ataupun sekedar perahu bebek. Sesekali, di kejauhan hanya terlihat kapal yang melintas. Sepi, namun tetap, kecantikan alaminya tidak terbantahkan bahkan jauh mengungguli Pantai Kuta atau Padang Bai di Bali.

Tidak berbeda dengan berkunjung ke daerah wisata bahari yang lain, berkunjung ke Liang dan beberapa pantai lain di Ambon sebaiknya dilakukan di waktu yang tepat ketika laut teduh dan tidak berangin. Hindari berkunjung ketika musim Angin Barat atau Angin Timur karena laut cenderung berombak dan ini biasanya membuat pantai menjadi keruh airnya. Bulan-bulan tenang dari September hingga November atau April hingga Mei bisa jadi sebuah pilihan agar liburan Anda di Pantai Liang lebih berkesan.

Terbentang sepanjang kurang lebih 1 KM, Liang menawarkan kesempatan berliburan untuk tiap pengunjung. Di hari-hari libur, pantai ini selalu ramai dikunjungi penduduk lokal dan segelintir kecil wisatawan. Kalau Anda lebih suka menikmati pantai di kala sepi, ada baiknya hindari berkunjung ke Liang di hari libur. Pilihlah hari-hari biasa dan Liang akan sepenuhnya menjadi milik Anda hanya dengan 3000 rupiah.

 

Informasi Umum
1. Ongkos masuk ke area wisata Pantai Hunimua perkepala dikenakan biaya Rp 3000,
2. Warga di sekitar Pantai Hunimua adalah orang-orang yang ramah, mereka murah senyum kepada para pengunjung yang datang,
3. Jajanan di sini beragam mulai dari snack seperti biskuit dan coklat, air minum Aqua, dan macam-macam panganan lokal seperti singkong goreng, pisang goreng, dan jagung rebus. Bahan bakar yang digunakan memasak panganan ada yang masih menggunakan kompor alam alias memanfaatkan ranting-ranting kayu kering yang dijadikan sumber api untuk sekedar menggoreng, selain hemat bahan bakar cara ini ternyata dapat menamabah cita rasa dan aroma dari gorengan yang dihasilkan

 
 

PANTAI ORA

PDFCetakSurel

Terakhir Diperbaharui pada Jumat, 08 November 2013 19:51 Ditulis oleh Administrator Jumat, 08 November 2013 09:00

Ora Beach atau Pantai Ora terletak di Pulau Seram, Kecamatan Seram Utara Kabupaten Maluku Tengah.

Inilah surga dunia. Tak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk mendapatkan suasana yang damai dengan pemandangan alam (khususnya pantai) yang sangat indah.

Pantai Ora memang sangat menawarkan keindahan alam yang tiada duanya, satu lagi bukti untuk para wisatawan diluar sana bahwa indonesia mempunyai pantai yang indah.

Ini salah satu bukti bahwa Indonesia sangat kaya dengan keindahan alamnya jika mau dijaga dengan baik. Bagi para wisatawan, di pantai ini telah disediakan resort-resort yang berdiri di atas pantai dengan air yang sangat jernih. Resort-resort disini berbentuk rumah panggung dengan material kayu sehingga menimbulkan suasana nyaman untuk bersantai menghilangkan penat atau beban pikiran. Tempat ini sangat memanjakan pengunjungnya yang ingin mencari ketenangan pikiran.

Selain itu, pemandangan alamnya juga tak kalah jika dibandingkan dengan pantai Lanikai Oahu di Hawaii atau Pulau Maladewa. Setidaknya kita tidak harus jauh-jauh pergi ke luar negeri karena ternyata Indonesia pun punya keindahan serupa.

Selain itu, pemandangan alamnya juga tak kalah jika dibandingkan dengan pantai Lanikai Oahu di Hawaii atau Pulau Maladewa. Setidaknya kita tidak harus jauh-jauh pergi ke luar negeri karena ternyata Indonesia pun punya keindahan serupa.

Yang menjadi tugas kita adalah tetap menjaga keindahan alamnya agar tidak pudar oleh karena tangan-tangan jahil yang tidak bertanggungjawab. Di pantai ora ini, tumbuhan karang-karang dan hewan-hewan lautnya masih berjumlah banyak dan masih terawat dengan baik, mungkin karena tempat ini belum terlalu terekspos sehingga belum banyak yang datang dan merusak.

Negeri ini bersebelahan dengan Saleman. Bisa ditempuh melalui laut dari Saleman atau dari Jalan Trans Seram. Penginapan berlokasi di antara permukiman penduduk yang hampir 40 persen di antaranya membangun rumah di atas laut. Penginapan ini pun dibangun di atas laut dengan terumbu karang dan ikan karang beraneka warna menghiasi dasar laut.

Muhammad Ali, pemilik penginapan, mengatakan, selain snorkle, pengunjung juga bisa melintasi Sungai Salawai untuk melihat proses pembuatan sagu, pengambilan buah kelapa, atau melihat beragam jenis burung di muara sungai di Teluk Sulaiman.

Wisatawan juga bisa trekking melintasi hutan yang masih lestari di balik Negeri Sawai, menuju Pusat Pendidikan dan Rehabilitasi Satwa di Dusun Masihulan, Sawai, tempat melihat penangkaran burung kakaktua seram dan nuri seram. Jangan lupa melihat gua, air terjun, atau menghabiskan malam di pondok, di tengah hutan, yang sengaja dibangun oleh Ali.

Kegiatan-kegiatan ini bisa menyedot wisatawan sampai 500 orang setiap tahun. Mayoritas turis asing dari Belanda, Amerika Serikat, dan Jepang. Bahkan, tahun ini, sudah 20 grup turis dari sejumlah negara yang pesan tempat. Setiap grup berjumlah sedikitnya 10 orang

Aktivitas pariwisata di Teluk Saleman, persisnya di Saleman dan Sawai ini, sebetulnya sudah dirintis sejak pertengahan 1990. Namun, saat mencapai puncak kejayaan, industri ini meredup, bahkan mati total akibat kerusuhan Maluku pada 1999.

Akses

Untuk mencapai pantai ora kita harus menyebrang ke Pelabuhan Amahay di Kota Masohi Pulau Seram dari Pelabuhan Tulehu di Kabupaten Maluku Tengah dengan menggunakan Kapal Cepat Cantika Anugerah yang memakan waktu 2 jam. Adapun biaya yang harus dikeluarkan adalah sebesar Rp 100.000,00 untuk kelas ekonomi dan Rp 150.000,00 untuk kelas VIP.

Fasilitas

Di pantai ora ini tersedia penginapan yang bernama Ora beach resort penginapan yang mengambang di atas pantai dan berbentuk rumah panggung. Selain Ora Beach Resort, wisatawan juga dapat menemukan suasana lain dengan menginap di Pondok Wisata Lisar Bahari di Negeri Sawai, Kecamatan Seram Utara, Maluku Tengah.

 

 

PULAU BANDA

PDFCetakSurel

Terakhir Diperbaharui pada Jumat, 08 November 2013 19:46 Ditulis oleh Administrator Kamis, 07 November 2013 16:13

BANDA, gugusan pulau di tenggara Kota Ambon, Provinsi Maluku, hingga akhir abad ke-18 merupakan kawasan metropolitan yang memesona. Tanah surga ini memainkan peran penting dalam percaturan politik dan ekonomi internasional. Pelbagai suku bangsa asing dan Nusantara pun berbaur di dalamnya. Oleh pala, mereka ”dipertemukan” di negeri rempah-rempah.
Sejak awal abad ke-12, Banda telah masyhur sebagai wilayah penghasil pala. Kabar ini awalnya disebarkan para pedagang Melayu, Arab, Persia, dan China. Mereka yang pertama membeli pala dari Banda, yang kemudian dibawa dengan kapal ke Teluk Persia dan didistribusikan ke seluruh Eropa melalui Konstantinopel (Istanbul) di wilayah Turki saat ini.

Istana mini di Banda Naira

Biji pala saat itu memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan dengan perak, bahkan emas. Rempah yang pada zaman dulu sangat langka, dicari banyak orang karena dipercaya berkhasiat, pemberi rasa, bahan pengawet yang baik sehingga mampu mengobati banyak penyakit. Ditambah lagi, rempah-rempah saat itu tidak tumbuh di wilayah Eropa. Bahkan, awal abad ke-17, harga pala yang dibeli dengan sangat murah di Banda dapat dijual di Eropa dengan harga 600 kali lipat.
Hal itu yang mendorong orang-orang Eropa berlomba- lomba mencari daerah penghasil rempah-rempah. Sejalan dengan dogma Gold, Glory, Gospel alias kekayaan, kejayaan, dan penyebaran agama.
Dalam Kepulauan Banda: Kolonialisme dan Akibatnya di Kepulauan Pala (1983), Willard A Hanna menyebutkan, kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke Banda juga disebabkan jatuhnya Konstantinopel dari kekuasaan Kekaisaran Bizantium (Romawi Timur) ke tangan Kesultanan Utsmaniyah (Kekaisaran Turki Ottoman) pada tahun 1453. Akibatnya, jalur perdagangan pala terputus dan memaksa pelaut- pedagang Eropa mencari sendiri melalui jalur laut.
Laksamana Portugis Afonso de Albuquerque adalah penjajah Eropa pertama yang menaklukkan pelabuhan dagang Malaka di Semenanjung Malaya dari Sultan Mahmud pada 1511. Ia mengutus ekspedisi yang dipimpin D’Abreau untuk berlayar ke Maluku. Konon, saat para pelaut Portugis masih berjarak 15 kilometer dari daratan Banda, mereka sudah mencium bau harum pala.
Begitu tiba di daratan Banda, pelaut Portugis mengisi kapal dengan biji dan buah pala. Mereka kemudian menjualnya ke Sevilla, kota dagang di semenanjung Iberia, Eropa selatan, atau Spanyol saat ini. Mereka pun menjadi kaya raya.

 

Sejak saat itu, Portugis menguasai Banda, hingga armada Belanda yang dipimpin Laksamana Muda Jacob van Heemskerk berlabuh di Pulau Banda Besar (Lonthoir) pada awal abad ke-17. Hampir bersamaan, tahun 1601, armada dagang Inggris di bawah komando Kapten James Lancester membuat pangkalan di Pulau Run dan Pulau Ai setelah menempuh perjalanan laut dari Banten.

Lebih strategis

Mochtar Tawid (58), salah seorang tokoh masyarakat Banda, menuturkan, saat itu, Belanda bahkan menilai Banda lebih strategis ketimbang Batavia (Jakarta). Pada saat Belanda dan Inggris berseteru memperluas wilayah kolonialnya, Batavia dikorbankan menjadi sasaran penyerbuan. Namun, pada saat yang sama, Banda Neira dijadikan pusat pertahanan dan permukiman gubernur jenderal Hindia Belanda pada abad ke-17.

Selain itu, Banda Neira juga pernah berkedudukan sebagai ibu kota provinsi (Government van Banda) dengan wilayah meliputi Pulau Seram bagian timur, Kepulauan Kei, Kepulauan Aru, dan Kepulauan Tanimbar. Pada abad ke-19, statusnya dijadikan setingkat kabupaten dan dipimpin seorang residen.

Setelah mendirikan Benteng Nassau (1609) di tepi pantai dan Benteng Belgica (1617) di perbukitan Pulau Neira, Belanda sungguh-sungguh berniat membangun Banda menjadi sebuah permukiman modern. Hingga kini, jejak-jejak itu masih dapat dijumpai di Banda Neira, kota kecil di Pulau Neira.

Gedung pemerintahan dan rumah gubernur jenderal Hindia Belanda berdiri megah persis berhadapan dengan pantai yang dulu merupakan dermaga dagang. Di dekat gedung tersebut terdapat beberapa rumah besar yang merupakan kantor para pengontrol perdagangan pala.

Kendati kini mulai mengusam, masih terlihat bahwa gedung-gedung itu dibangun dengan lempengan ubin dari batu granit dan marmer. Gedung-gedung itu berhiaskan pilar-pilar raksasa serta pintu dan jendela dengan daun penutup yang megah.

Di dekat tempat tinggal gubernur jenderal Hindia Belanda, masih di tepi pantai, terdapat sebuah gedung mewah. Menurut Rizal Bahalwan, pegiat wisata Banda, gedung tersebut pada masa kolonial adalah Harmonie Club, sebuah ruang pertemuan dan seni. Pada masa silam, Harmonie Club merupakan tempat pegawai sipil, perwira militer, perkenier (juragan perkebunan pala berlisensi), dan ”noni-noni” Belanda minum bols (minuman keras) di senja hari, bermain kartu, atau sekadar bersosialisasi.
Gedung pertemuan semacam itu juga dijumpai di beberapa pusat kolonial, seperti Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta dengan nama Societed Club. ”Saat-saat khusus, juga digelar pesta dansa, pertunjukan musik, atau sandiwara oleh para artis,” kata Rizal.

 

Antara areal bisnis dan pemerintahan di tepi pantai dengan permukiman di tengah Pulau Neira dihubungkan dengan jalan batu dengan naungan pohon-pohon besar di tepinya. Rumah-rumah berarsitektur Eropa itu dulu kebanyakan milik para perkenier pala.

Bahkan, di Pulau Neira yang luasnya hanya 19 kilometer persegi, lanjut Rizal, pada zaman kolonial hingga Jepang memiliki sekolah serta layanan kesehatan setara rumah sakit. Willard Hanna, peneliti Amerika yang menulis sejumlah buku tentang kepulauan ini, menjuluki Banda sebagai ”een Europeeshe Staad in Zuid-Oost Azie” atau maket kota kecil Eropa di Asia Tenggara.

Pembauran

Tak hanya permukiman, para penghuni Banda Neira juga menunjukkan ciri-ciri pembauran ras ala metropolitan. Mereka tidak seperti rata-rata orang asli Maluku yang berkulit hitam dan berambut ikal. Paras perempuan Banda sangat beragam, mirip warga keturunan Indo-Eropa, Arab, atau China.

Menurut Mochtar, mereka keturunan orang-orang Portugis, Inggris, Belanda, Arab, China, hingga Jepang yang kawin-mawin dengan warga lokal. Meski sejak pertengahan 1621 sebenarnya penduduk asli Pulau Banda sudah tidak ada lagi.

Itu terjadi setelah pembantaian 44 orang kaya (kaum terpandang di Banda) pada Mei tahun itu oleh Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang terkenal kejam. Kekejiannya memaksa 90 persen orang Banda melarikan diri ke pulau-pulau lain, seperti Seram, Kei Besar (di wilayah Banda Eli), dan Buru.

Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang kesulitan mencari pekerja perkebunan pala kemudian mendatangkan pekerja dari sejumlah suku Nusantara, mulai dari Jawa, Betawi, Buton, Makassar, hingga Bali.
”Mereka inilah yang kawin- mawin, juga dengan orang-orang Eropa yang sudah menetap di Banda dan menurunkan etnik Banda sekarang,” ujar Mochtar.

 

 

 

 
 
Indonesian English French German Hindi Italian Portuguese Russian Spanish

Kepala Daerah

Pariwisata

Wisata Sejarah di Kecamatan Leihitu

Wisata Sejarah di Kecamatan Leihitu

A. Benteng Amsterdam...
23 November 2013
Banda Naira

Banda Naira

Berbicara banda neira...
13 November 2013
Benteng Belgica

Benteng Belgica

Benteng Belgica pada...
13 November 2013
Upacara Pukul Sapu

Upacara Pukul Sapu

Upacara ini gelar untuk...
13 November 2013
Bambu Gila

Bambu Gila

Mantra, kemenyan, dan...
13 November 2013

Statistics Pengunjung

  • Kunjungan : 300132